Senin, 01 Oktober 2012

Asuhan Neonatus Adaptasi BBL Terhadap Perubahan Suhu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perubahan kondisi suhu terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh ibunya, suhu tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan ibunya sudah terputus dan neonatus harus mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.Semakin kecil tubuh neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya. Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan suhu lingkungan. Sedangkan suhu inti tubuh diatur oleh hipotalamus. Namun pada ilmu penyakit anak, pengaturan tersebut masih belum matang dan belum efisien. Oleh sebab itu pada pediatrik ada lapisan yang penting yang dapat membantu untuk mempertahankan suhu tubuhnya serta mencegah kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak bawah kulit. Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak bergantung pada ketebalannya. Sayangnya sebagian besar pediatrik tidak mempunyai lapisan yang tebal pada ketiga unsur tersebut. Transfer panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan menuju kulit. Tahap kedua panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi, konveksi atau evaporasi.

B.     TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memberi pengetahuan pada pembaca tentang adaptasi bayi baru lahir terhadap perubahan suhu.
2.      Untuk memenuhi tugas asuhan neonates.

C.     MANFAAT
Dengan adanya makalah ini, pembaca diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang adaptasi bayi baru lahir terhadap perubahan suhu.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    DEFINISI
Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyesuaian fungsional neonatus dari kehidupan dalam uterus ke kehidupan luar uterus . Apabila terjadi gangguan adaptasi maka bayi akan sakit.Terutama pada bayi yang kurang bulan, biasanya terdapat berbagai gangguan mekanisme adaptasi.Adaptasi segera setelah lahir meliputi adaptasi fungsi-fungsi vital (sirkulasi, respirasi , susunan saraf pusat, pencernaan , metabolism, dan pengaturan suhu).
Adaptasi pengaturan suhu merupakan proses penyesuaian pusat pengaturan suhu di hypothalamus yang belum berkembang, walaupun sudah aktif. Kelenjar keringat belum berfungsi normal, mudah kehilangan panas tubuh (perbandingan luas permukaan dan berat badan lebih besar, tipisnya lemak subkutan, kulit lebih permeable terhadap air), sehingga neonatus sulit mengatur suhu tubuh dan sangat terpengaruh oleh suhu lingkungan
Pada bayi-baru lahir, akan memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang belum efisien dan masih lemah, sehingga penting untuk mempertahankan suhu tubuh agar tidak terjadi hipotermi. Adapun keadaan bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang bayi baru lahir. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir.
Adapun proses mekanisme kehilangan panas (hipotermia) pada bayi baru lahir dapat terjadi melalui proses konveksi, evaporasi, radiasi dan konduksi:
1.      Konveksi : panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak. (jumlah panas yang hilang tergantung kepda kecepatan dan suhu udara.
Contoh : bayi baru lahir diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.
Pencegahan :  Hindari aliran udara (pendingin udara, kipas angin, lubang angin terbuka)

                                               
2.      Evaporasi : panas hilan melalui proses penguapan tergantung kepada kecepatan dan kelembaban udara (perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadi uap)
Contoh : bayi baru lahir tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
Pencegahan :
ü  Saat mandi, siapkan lingkungan yang hangat.
ü  Batasi waktu kontak dengan pakaian atau selimut basah

3.      Radiasi :panas dipancarkan dari bayi baru lahir , keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda)
Contoh: bayi baru lahir diletakkan ditempat yang dingin.
Pencegahan :
Ø  Kurangi benda-benda yang menyerap panas (logam)
Ø  Tempatkan ayunan bayi tempat tidur jauh dari tembok (diluar) atau jendela jika mungkin.


4.      Konduksi : panas di hantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi. (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung)
Contoh : popok bayi baru lahir basah tidak langsung diganti.
Pencegahan : Hangatkan seluruh barang-barang untuk perawatan (stetoskop, timbangan, tangan pemberi perawatan, baju, sprei)
Mekanisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi sempurna, untuk itu diperlukan pencegahan kehilangan panas pada tubuh bayi karena bayi dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermia sangat beresiko tinggi mengalami kesakitan berat bahkan kematian. Hipotermia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun didalam ruangan yang relative hangat. . Cegah kehilangan panas (hipotermi) pada bayi baru lahir dengan upaya antara lain :
v  Segera setelah lahir, keringkan permukaan tubuh
v  Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
v  Tutupi kepala bayi.
v  Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI.
v  Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
v  Tempatkan bayi dilingkungan hangat



B.     CARA MENGATASI
Cara mengatasi perubahan adaptasi bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
1.      Apabila kondisi suhu BBL di bawah normal, dapat diatasi dengan cara:
ü  Selimuti dengan dua selimut
ü  Pasang tutup kepala
ü  Kaji sumber-sumber lingkungan untuk kehilangan panas
ü  Jika hipotermia menetap lebih dari 1 jam, rujuk kepada yang lebih ahli.
ü  Kaji terhadap komplikasi stres dingin, hipoksia, asidosis respiratorik, hipoglikemi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penurunan berat badan
2.       Apabila kondisi suhu BBL diatas normal, dapat diatasi dengan cara:
Ø  Lepaskan selimut
Ø   Lepaskan tutup kepala, jika dikenakan
Ø  Kaji suhu lingkungan sekali lagi
Ø   Jika suhu hipertermia menetap lebih dari 1 jam, segara laporkan ke dokter.
C.     Upaya Untuk Mencegah Kehilangan Panas pada BBL
Ø  Mengeringkan bayi
Ø  Menyelimuti bayi dengan kain bersih,kering dan hangat
Ø  Menutup bagian kepala bayi
Ø  Menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukkan bayinya
Ø  Jangan segera menimbang atau mamandikan bayi baru lahir



















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Bayi baru lahir memiliki kemampuan terbatas dalam mengatur suhu tubuhnya yang berhubungan dengan lingkungannya, bayi akan terancam bahaya hipotermi jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Sehingga terdapat empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir ke lingkungannya yaitu secara konduksi, konveksi,radiasi dan evaporasi.

B.     SARAN
Untuk bayi baru lahir disarankan untuk segera menyelimutinya dengan kain atau alat penghangat dengan keadaan bayi apapun terutama bayi baru lahir untuk mencegah terjadinya hipotermi pada bayi. Kesigapan tenaga kesehatan yang menangani dan adanya fasilitas yang menunjang untuk perawatan bayi baru lahir.











DAFTAR PUSTAKA
·         Muslihatun, wafi nur.2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Fitramaya. Yogyakarta
·         Hapsari. 2009. Termogulasi Pada Bayi Baru Lahir(Perlindungan Termal). Superbidanhapsari.wordpress.com
·         Rukiyah, Yeyeh, Ayi.Yulianti, Lia.2010.Asuhan Neonatus, Bayu dan Anak Balita. CV. Trans Info Media. Jakarta Timur.
·         Barbara, R, Straight. 2005. Keperawatan Ibu – Bayi Baru Lahir. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
·         Tucker, Martin, Susan. Canobbio, M, Marry. Paquette, Valgor, Eleano.Wells, Fyfe, Majory. 1999. Proses Keperawatan, Doagnosis Dan Evaluasi. Buku Kedokteran EGC.  Jakarta.

Tidak ada komentar:

Yang Populer